Rosan: Narasumber dana Danantara dari dividen, tidak dari dana bank BUMN

Ibukota – Chief Executive Officer (CEO) atau Kepala Eksekutif Badan Pengelolaan Penyertaan Modal Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Rosan Roeslani menegaskan bahwa sumber dana dari badan yang dimaksud dipimpinnya berasal dari dividen yang digunakan diperoleh setiap tahun, tidak dari dana perbankan BUMN.
Rosan pada Indonesia Economic Outlook 2025 di area Jakarta, Rabu, menjelaskan bahwa dana yang tersebut digunakan untuk penanaman modal oleh BPI Danantara adalah dividen tahunan yang dihasilkan oleh seluruh BUMN, dan juga tidak dari operasional atau dana yang ada di area bank BUMN.
"Dana yang tersebut kita dapatkan, ini kan adalah dana dari dividen setiap tahun yang digunakan dihasilkan oleh semua BUMN ini. Nah ini biar pemahamannya identik dulu nih. Jadi kita penanaman modal ini dalam level Danantara ini, tidak kita ambilin dari misalnya operasional BUMN, bukan, salah. Ini adalah pengertian yang tersebut benar-benar salah," katanya.
Ia menekankan bahwa anggapan terkait dana yang digunakan digunakan berasal perbankan seperti Bank Mandiri atau Bank BNI untuk pembangunan ekonomi adalah pemahaman yang tersebut keliru serta tiada sesuai dengan prinsip pengelolaan BPI Danantara.
"Biar ini mirip dulu nih, clear dulu, tidak kita bilang oh dana bank-bank diambilin untuk investasi, dari dana masyarakat, itu benar-benar sangat-sangat menyesatkan," tegasnya.
Menurut Rosan, dana yang tersebut diperoleh bukanlah dana rakyat yang ada di dalam bank BUMN, tetapi dividen yang tersebut sebelumnya disetorkan ke Menteri Keuangan juga sekarang dikelola secara mandiri oleh Danantara.
"Nanti duit dari Bank Mandiri, Bank BNI, kita ambilin buat investasi, itu adalah pengertian yang tersebut salah, salah total. Justru kita mampu berinvestasi dari dividen dari keuntungan yang dimaksud dibagikan untuk yang dimaksud selama ini diberikan untuk Menteri Keuangan. Sekarang dapat kami kelola sendiri, untuk apa? Untuk investasi," jelasnya.
Rosan juga menjelaskan bahwa dengan pengelolaan dana dividen yang mana lebih banyak terstruktur, BPI Danantara dapat lebih lanjut optimal pada melakukan investasi, khususnya dalam sektor-sektor strategis seperti energi lalu ketahanan pangan.
"Kita dapat investasikan ke bidang-bidang tentunya hilirisasi, energi baru terbarukan, ketahanan pangan, ketahanan energi, yang dimaksud intinya mempunyai dampak yang dimaksud besar terhadap perekonomian Indonesia," ucapnya.
Rosan menambahkan bahwa pengelolaan dana pembangunan ekonomi dijalankan dengan hati-hati lalu transparan, tidak hanya saja kebijakan sepihak, melainkan melalui proses yang melibatkan berbagai pihak pada struktur organisasi Danantara.
Dalam proses pengelolaan investasi, BPI Danantara mempunyai komite pembangunan ekonomi yang dimaksud terdiri menghadapi berbagai level, termasuk CEO, Chief Investment Officer, hingga pengawas internal yang mana bertugas memverifikasi prinsip kehati-hatian.
Pengelolaan yang tersebut berlapis ini dimaksudkan untuk menjaga efisiensi juga produktivitas pada menjalankan investasi, sembari tetap saja mengutamakan prinsip kehati-hatian yang dimaksud sangat penting pada sektor ini.
Rosan menegaskan bahwa dengan struktur pengawasan yang digunakan jelas, BPI Danantara dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian Indonesia, seperti penciptaan lapangan kerja dan juga peningkatan sektor energi baru terbarukan.
"Jadi ini memang sebenarnya kita buat berlapis untuk asas kehati-hatian, kita setiap saat utamakan. Tapi tanpa mengempiskan dari segi efisiensi lalu juga produktivitas," katanya.






