Sering mengejutkan diri pada waktu hubungan serius? kenali “avoidant attachment”

Ibukota – Bagi beberapa orang, ketika hubungan mulai terasa semakin dekat kemudian serius, justru muncul keinginan untuk mengejutkan diri. Bukan akibat kurangnya rasa sayang, tetapi ada dorongan emosional untuk merawat jarak.
Perasaan ini rutin datang tiba-tiba, di dalam pada waktu hubungan seharusnya melangkah ke tahap yang digunakan lebih tinggi dalam. Bagi yang dimaksud mengalaminya, menawan diri terasa seperti kebutuhan, bukanlah sekadar pilihan.
Fenomena ini cukup umum terjadi, meskipun tidaklah terus-menerus sederhana untuk dipahami. Lalu, apa sebenarnya yang memacu seseorang untuk menjauh ketika hubungan semakin serius?
Salah satu penjelasannya adalah avoidant attachment atau pola keterikatan menghindar.
Ini merupakan salah satu gaya keterikatan yang biasanya mengalami perkembangan sejak masa kanak-kanak, khususnya pada anak-anak yang tiada mendapatkan respons emosional yang dimaksud sensitif dari khalayak tua atau pengasuhnya.
Anak-anak dengan avoidant attachment cenderung berkembang berubah jadi pribadi yang dimaksud sangat mandiri, baik secara fisik maupun emosional. Mereka belajar bahwa menunjukkan keperluan emosional tidaklah akan mendapatkan respons yang mana diharapkan, sehingga perlahan mereka menahan diri untuk tiada bergantung pada warga lain. Pemikiran tentang gaya keterikatan ini pertama kali dikembangkan oleh Mary Ainsworth juga Barbara Wittig pada tahun 1970.
Ciri-ciri avoidant tttachment saat dewasa
Gaya keterikatan ini tak cuma berpengaruh pada masa kecil, tapi juga bisa jadi terbawa hingga dewasa. Beberapa tanda yang mana kerap terlihat antara lain:
- Menghindari kedekatan emosional di hubungan
- Merasa pasangan terlalu clingy ketika mencoba mendekat secara emosional
- Lebih memilih menyelesaikan hambatan sendiri ketimbang berbagi
- Cenderung menekan atau mengabaikan perasaan negatif
- Menarik diri dari percakapan yang mana tidak ada nyaman
- Takut ditolak, sehingga mempertahankan jarak emosional
- Memiliki nilai diri tinggi, namun banyak memandang negatif pendatang lain
- Terlalu fokus pada keinginan serta kenyamanan diri sendiri
Penelitian juga menunjukkan bahwa avoidant attachment dapat berdampak pada kualitas hubungan pada usia lanjut. Sebuah studi pada Hong Kong menemukan bahwa pria lansia dengan gaya keterikatan ini mengalami efek negatif yang tersebut lebih lanjut besar terhadap kesejahteraan mereka itu dibandingkan wanita.
Apa penggerak avoidant attachment?
Avoidant attachment biasanya mengalami perkembangan saat anak rutin mengalami penolakan atau pengabaian emosional dari penduduk tua atau pengasuh. Anak-anak ini belajar bahwa mencari kenyamanan atau menunjukkan emosi tidak ada akan memunculkan respons yang tersebut dia butuhkan. Akibatnya, dia mulai menekan keinginan untuk mendapatkan dukungan, dan juga merasa harus mengandalkan diri sendiri. Beberapa factor yang digunakan bisa saja menyebabkan avoidant attachment antara lain:
- Orang tua yang tersebut kurang menyadari keperluan emosional anak
- Kurangnya empati dari pengasuh
- Orang tua merasa terbebani dengan tanggung jawab mengasuh
- Orang tua sendiri mempunyai gaya keterikatan yang tersebut menghindar
Anak-anak ini lama kelamaan juga sanggup kehilangan koneksi dengan permintaan emosional mereka itu sendiri. Mereka belajar untuk menenangkan diri tanpa bantuan penduduk lain, memulai pembangunan pola pikir bahwa bergantung pada penduduk lain adalah sesuatu yang digunakan berisiko.
Artikel ini disadur dari Sering menarik diri saat hubungan serius? kenali “avoidant attachment”






