Iran penting untuk perundingan nuklir dengan AS, tak ingin ditunda

Teheran – Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi pada Mingguan (20/4) memaparkan negaranya penting pada negosiasi tidak ada secara langsung tentang nuklir dengan Amerika Serikat (AS) lalu tidaklah menginginkan penundaan di proses diplomatik.
Pernyataan yang disebutkan disampaikan Gharibabadi di sebuah pertarungan dengan para anggota Komisi Ketenteraman Nasional juga Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran di Teheran, seperti dilaporkan kantor berita resmi Iran IRNA yang mana mengutip pernyataan juru bicara komisi tersebut, Ebrahim Rezaei.
Gharibabadi mengungkapkan bahwa Teheran serta Washington, selama putaran kedua pembicaraan bukan dengan segera merekan di Roma, Italia, pada Hari Sabtu (19/4), mengeksplorasi lalu menyepakati "kerangka kerja keseluruhan, agenda, dan juga pembicaraan teknis (selanjutnya)."
Menurut Rezaei, wamenlu Iran sudah pernah menekankan bahwa "semua sanksi (terhadap Iran) harus dicabut dengan cara yang digunakan menguntungkan rakyat Iran secara ekonomi".
Dia juga menekankan bahwa Teheran tidak ada akan bernegosiasi tentang haknya untuk memperkaya uranium, yang tersebut menurutnya "termasuk di garis merah."
Perundingan di Roma dan juga putaran dialog Iran-AS sebelumnya yang tersebut berlangsung ke Muscat, ibu kota Oman, pada 12 April berfokus pada kegiatan nuklir Teheran lalu pencabutan sanksi-sanksi Washington.
Pembicaraan-pembicaraan yang digunakan dipuji oleh kedua belah pihak sebagai "konstruktif" itu muncul pasca ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengebom Iran apabila negara Timur Tengah yang disebutkan tiada menerima tawarannya untuk melakukan pembicaraan, yang dimaksud diuraikan pada sebuah surat untuk pimpinan Iran pada awal Maret lalu.
Iran mengesahkan kesepakatan nuklir, yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA), dengan enam negara besar, yakni Inggris, China, Prancis, Jerman, Rusia, lalu AS, pada Juli 2015.
Berdasarkan kesepakatan itu, Iran menerima sebagian langkah pembatasan terhadap inisiatif nuklirnya dengan imbalan keringanan sanksi.
Namun, Amerika Serikat menantang diri dari kesepakatan yang disebutkan pada Mei 2018 lalu memberlakukan kembali sanksi-sanksi, sehingga menggalakkan Iran untuk mengempiskan beberapa komitmen pembatasan kegiatan nuklirnya.
Sejauh ini upaya untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran belum mencapai kemajuan yang dimaksud berarti.
Artikel ini disadur dari Iran serius untuk perundingan nuklir dengan AS, tak ingin ditunda






